Flores Timur Menuju Kabupaten Literasi

Dinas Pendidikan, Kebudayaan dan Olahraga Kabupaten Flores Timur (Dinas PKO Flotim) pada Rabu (5/4/2017), menerbitkan surat edaran berisi ajakan menyukseskan Gerakan Literasi Sekolah (GLS).

Dalam edaran bernomor PKO.420/133/SEKRET 1/2017, Dinas PKO mengimbau kepada seluruh intitusi pendidikan, baik tingkat TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA, pendidikan nonformal, dan taman bacaan, agar merealisasikan program ini secara baik.

Formula yang direkomendasikan oleh Dinas PKO Flotim kepada para penyelenggara pendidikan ini adalah teknik 7M. Yakni:1) Memiliki perpusatakaan sekolah; 2) Memiliki tenaga perpustakaan; 3) Memiliki program membaca secara terjadwal; 4) Memiliki buletin sekolah atau majalah dinding; 5) Memiliki ruang baca gambar; 6) Memiliki lomba membaca dan menulis; dan 7) Melibatkan orang tua dalam GLS di rumah.

Secara umum, formula 7M ini memiliki magnet yang potensial dalam upaya menumbuhkembangkan GLS. Alasannya, ketujuh seruan ini mampu dan mudah dilaksanakan para penyelenggara di kabupaten ini. Bahkan, kalau boleh jujur, sebagian besar dari ketujuh teknik ini telah dijalankan sekolah selama ini.

Sayangnya, pihak sekolah belum fasih melembagakan teknik 7M ini secara tersistem dan memiliki kekuatan hukum. Untungnya, Dinas PKO Flotim, di bawah komando Drs. Bernardus Beda Keda, M.AP mampu membaca geliat ini dan melembagakannya serta memberi kekuatan hukum melalui surat edaran ini. Dengan demikian, cepat atau lambat GLS dapat berjalan secara sewajarnya.

Secara defenitif, Gerakan Literasi Sekolah (GLS) adalah upaya menyeluruh yang melibatkan semua warga sekolah, baik peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan dan orangtua/wali sebagai bagian dari ekosistem pendidikan. Tujuannya agar warga sekolah mempunyai budaya membaca dan menulis sehingga tercipta pembelajaran sepanjang hayat. Ringkasnya, adanya iklim ilmiah yang berkembang secara masif.

Menurut Ditjen Dikdasmen Kemendikbud (2006) ada empat alasan mendasar GLS mesti dijalankan. Yakni 1) Adanya fakta hasil survey internasional (PIRLS 2011, PISA 2009 dan 2012) yang mengukur bahwa keterampilan membaca peserta didik Indonesia menduduki peringkat bawah; 2) Tuntutan keterampilan membaca pada abad 21 adalah kemampuan memahami informasi secara analitis, kritis, dan reflektif; 3) Pembelajaran di sekolah belum mampu mengajarkan kompetensi abad 21; dan 4) Kegiatan membaca di sekolah perlu dikuatkan dengan pembiasaan membaca di keluarga dan masyarakat.

Flotim Kabupaten Literasi
Apabila GLS mampu dijalankan dengan baik maka latar belakang diterbitkan surat edaran tersebut tercapai. Adapun latar belakang dimaksud adalah menjadikan Flores Timur (Flotim) sebagai salah satu Kabupaten Literasi di Indonesia sebagaimana program yang sedang marak digalakkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Kabupaten/Kota Literasi, secara sederhananya dapat dipahami sebagai kabupaten/kota yang secara terlambaga dan tersistem menjalankan program-program kependidikan yang mendukung adanya budaya membaca dan menulis masyarakatnya, terutama pada lembaga-lembaga pendidikan.

Ambil contoh, sebagai salah satu Kabupaten/Kota Literasi, Kota Surabaya telah menjalankan program ini secara baik. Kota Surabaya mempekerjakan 475 sebagai petugas perpustakaan di semua SD negeri. Lokasi perpustakaan dan taman bacaan tersebar di balai-balai RW, kelurahan, kecamatan, taman kota, rumah susun, puskesmas, sekolah, terminal, dan panti sosial. Surabaya juga mempunyai layanan mobil perpustakaan keliling di 64 lokasi. Pun terdapat pengelolaan layanan baca pada 970 titik layanan, baik milik pemerintahan maupun swasta masyarakat.

Sementara di Flotim, GLS sebenarnya telah berjalan. Beberapa sekolah yang gencar menjalankan program ini di antaranya MTsN Witihama, SMPN Lewolema, SMPN Satap Riangpuho, SMPN Satap Tapobali, SMAN 1 Tanjung Bunga, SMA Darius Larantuka, SMPK Ratu Damai serta beberapa sekolah lainnya.

Selain itu, telah ada beberapa tamaan bacaan yang disediakan secara gratis oleh warga demi memenuhi keterbutuhan akan bahan bacaan bagi masyarakat.Misalnya Pondok Baca Wathan Lamahala, taman bacaan di Witihama, dan taman bacaan di Horowura. Dalam pada itu, salah satu organisasi yang sangat serius menggalakkan program literasi yakni Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena) Cabang Flotim di bawah komando Maksimus Masan Kian, S.Pd.

Dengan adanya berbagai potensi dan pengalaman yang telah ditempuh oleh beberapa penyelenggara pendidikan di kabupaten ini, bukan tidak mustahilFlotim Kabupaten Literasi terwujud. Intinya, perlu dukungan berbagai pihak dalam menyukseskan program ini. Pemerintah daerahtermasuk Dinas PKO Flotim danBadan Perpustakaan Daerah, sekolah-sekolah formal dan nonformal, taman bacaan, LSM, organisasi, serta komponen-komponen masyarakat dan kepemudaan lainnya. Insya Allah, Flotim Kabupaten Literasi, terwujud secara nyata.
( Muhammad Soleh Kadir, S.Pd / Guru SMPN Satap Tapobali, Flores Timur )
Sumber Tribun News